Seperti biasa malam itu layaknya manusia biasa saya dan beberapa teman saya hendak makan malam,
Kebetulan karena malam itu kosong sedang tidak ada “kerjaan”, hahaha pakai tanda petik pasti “kerjaan” ini merupakan kata spesial ni
, tenang saja lain kali akan saya ceritakan apa dan bagaimana “kerjaan” itu..
, okay lanjut lagi, yah karena kondisi malam itu cukup lenggang maka saya dan beberapa teman memutuskan untuk makan di luar, padahal namanya anak kost makannya pasti di luar hehe, karena jarang sekali kost yang menyediakan makan di dalam kostnya (heuheu beginlah ratapan anak kost
).
Alhasil setelah sempat memilih-milih beberapa tempat, tercetuslah warung Nasi Bancakan..
Warung ini terletak di jalan Trunojoyo no. 62, Kemasannya ciamik sekali dengan suasana tempo doeloe, karena banyak sekali rumah makan yang memiliki konsep serupa namun, kurang memperhatikan berbagai sisi yang seharusnya bisa menambah kesan jaman-jaman perjuangan
.
Apa yang membuat warung ini berbeda salah satunya adalah penggunaan piring dan gelas kaleng. lama sekali rasanya tidak melihat piring model seperti ini, bahkan di warung-warung kaki lima pun sudah hampir tidak ada. Menu yang disajikan pun benar-benar mengingatkan kita dengan rumah, tidak hanya itu lauk yang disediakan pun beraneka ragam, dari jeroan, semur jengkol, hingga berbagai jenis lalapan yang komplit plit plit, tidak hanya itu berbagai jajanan desa pun lengkap, dari kue pukis, kue balok, dan kawan-kawannya. Soal minuman tak perlu tanya lagi dari es goyobod, cincau dll, ditambah lagi posisi tempat duduk yang bebas mau pakai kursi ok, lesehan juga ayuk.
Karena ingin lebih kerasa suasana ke-ndesoan-nya kemaren saya mengambil menu yang benar-benar mengingatkan akan roemah (halah kenapa tulisannya harus ikut berubah
). Nasi yang liwet yang sekarang sudah kita sangat jarang temui, sayur, sepotong tempe dan tahu, ditemani secuil ikan asin jampal roti menjadi pilihan saya malam itu tentunya ditambah “es goyo bod”, hmm ikan asinnya bener-bener enak anda harus coba lain waktu.
Soal harga? tentunya dengan suasana dan makanan yang kita dapat saya rasa cukup setara, walaupun mungkin kalau dibanding warung tradisional yang lain (ex: warteg) harganya cukup mahal, namun karena jarang sekali ada rumah makan yang berkonsep dan bersuasana seperti ini saat ini, dan anda sudah bosan dengan konsep resto, tak ada salahnya mencoba just for mencari suasana yang berbeda dan nostalgia dengan masakan rumah. (KAA)


